عن ابْنِ شُرَيْحٍ الْخُزَاعِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَعن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ (رواه مسلم :77)
Artinya : ” Ibn Sharih Al-Khuzai bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.'” ( H.R. Muslim 77 ).
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA ini menjelaskan tentang ciri- ciri orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir ada 3. Yang pertama adalah larangan berbuat jahat kepada Tetangga, sedangkan yang kedua adalah perintah untuk memuliakan Tamunya, dan yang ketiga adalah perintah untuk memelihara lisan sehingga lisannya tidak mengucapkan ssesuatu yang kotor bahkan ia lebih memilih diam daripada mengatakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Adapun yang membedakan hadis ini dengan riwayat muslim nomor 75 adalah pada kalimat فليحسن yaitu perintah memperbaiki hubungan dengan tetangga.