Hadis 32


عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ ( رواه الترمذى 1841

Artinya: Dari Jabir RA, bahwasanya Nabi Saw pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk pauk. Mereka menjawab, “Kami tidak punya apa-apa kecuali cuka.” Maka beliau meminta cuka itu, lalu beliau makan seraya bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” ( HR. al- Tirmidzi).

Hadis ini mengandung beberapa pelajaran penting dan adab mulia dari Rasulullah SAW yang patut kita teladani:
* Penerimaan dan Keridaan terhadap Rezeki yang Ada:
Nabi Muhammad Saw tidak pernah mengeluh atau mencela ketika dihadapkan pada keterbatasan makanan. Saat hanya ada cuka sebagai lauk, beliau tidak menunjukkan kekecewaan sedikit pun. Ini mengajarkan kita untuk ridha dan menerima apa pun rezeki yang Allah berikan, sesederhana apa pun itu.
* Bersyukur dan Menghargai Nikmat Allah:
Alih-alih menganggap cuka sebagai lauk yang kurang, Rasulullah Saw justru memuji cuka tersebut dengan mengatakan, “Sebaik-baik lauk adalah cuka.” Ini adalah wujud rasa syukur yang tinggi terhadap nikmat Allah, sekecil atau sesederhana apa pun. Memuji makanan juga dapat berarti menghargai upaya orang yang menyediakannya.
* Adab Makan dan Menjaga Perasaan Orang Lain:
Hadis ini secara implisit mengajarkan adab yang sangat baik saat makan, terutama ketika bersama orang lain (keluarga, tamu, atau tuan rumah). Mencela makanan dapat menyakiti perasaan orang yang telah bersusah payah menyiapkannya. Sebaliknya, memuji makanan akan menyenangkan hati mereka dan menunjukkan rasa terima kasih kita.