عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنِ أَبِيهِ فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ “مَنْ هَذَا؟” قُلْتُ أَنَا قَالَ “أَنَا أَنَا” كَأَنَّهُ كَرِهَهُ (رواه أبو داود: 5187)
قَالَ الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ: صَحِيحٌ
Artinya; Dari Jabir RA: Ia pergi menemui Nabi SAW untuk suatu urusan terkait utang ayahnya, lalu ia mengetuk pintu, dan Nabi SAW bertanya:”Siapa itu?” Jabir menjawab: “Saya.” Maka Nabi SAW berkata: “Saya? Saya?” (dengan nada menunjukkan ketidaksukaan), seolah beliau tidak menyukai jawaban itu.( HR Abu Dawud: 5187)
Dalam konteks hadis dari Jabir tadi (HR. Abu Dawud 5187) tentang adab mengetuk pintu dan menjawab “saya”, penilaian “صحيح” oleh Syaikh al-Albani
Hadis ini menjelaskan tentang adab ketika meminta izin masuk rumah orang hendaklah menyebutkan nama karena dalam hadis ini dijelaskan bahwa Rasul tidak menyukai jawaban jabir yang hanya menyebutkan “ saya saya “.dengan tujuan orang yang punya rumah mengetahui siapa yang ingin bertamu kerumahnya.