Hadis 25


عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ: (مَنْ ذَا؟). فَقُلْتُ: أَنَا. فَقَالَ: (أَنَا أَنَا). كَأَنَّهُ كَرِهَهَا (رواه البخاري: 5896)

 (ش أخرجه مسلم في الآداب باب كراهة قول المستأذن أنا إذا قيل من هذا رقم 2155  ( كأنه كرهها ) أي أظهر بقوله كرهه لهذه اللفظة ( أنا ) لأنها لا تعرف بالمستأذن ]

Artinya: Dari Muhammad bin al-Munkadir, ia berkata:
Aku mendengar Jabir RA berkata: “Aku datang kepada Nabi SAW karena utang yang dimiliki ayahku. Aku mengetuk pintu, lalu beliau berkata: ‘Siapa itu?’ Aku menjawab: ‘Saya.’ Maka beliau bersabda: ‘Saya? Saya?’ seakan-akan beliau tidak menyukai jawaban itu.” ( HR al-Bukhari: 5896)

 

(syarah): Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab al-Adab (Tata Krama), pada bab larangan mengatakan “saya” ketika diminta menyebutkan nama saat mengetuk pintu, dengan nomor hadis 2155. Kalimat “كأنه كرهها” (seolah-olah beliau membencinya) maksudnya: Rasulullah SAW menunjukkan ketidaksukaannya terhadap ucapan “saya”, karena ucapan itu tidak memberi kejelasan siapa orang yang meminta izin masuk.]

Hadis ini menjelaskan tentang bentuk adab Islami dalam komunikasi sosial, khususnya ketika bertamu atau meminta izin masuk. Rasulullah SAW menegur secara halus untuk mendidik umat agar menghindari jawaban yang ambigu dan belajar untuk menyebut nama secara langsung. capan “saya” ketika diminta menyebutkan identitas adalah tidak cukup jelas, karena tidak menjelaskan siapa yang datang.