عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: اطَّلَعَ رَجُلٌ مِنْ جُحْرٍ فِي حُجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرَى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ فَقَالَ: (لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْتَظِرُ لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ) (رواه البخاري: 5887)
[ش – (تَنْتَظِرُ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ (تَنْظُرُ) قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ الصَّوَابُ تَنْظُرُ وَيُحْمَلُ الْأَوَّلُ عَلَيْهِ]
Artinya: Dari Sahl bin Sa’d RA, ia berkata: “Seorang laki-laki mengintip dari lubang ke dalam salah satu rumah Nabi SAW, sementara saat itu Nabi SAW sedang memegang alat untuk menggaruk kepalanya. Maka Nabi SAW bersabda: ‘Seandainya aku tahu bahwa kamu sedang mengintip, pasti aku tusukkan alat ini ke matamu. Sesungguhnya izin (untuk masuk) itu dibuat demi menjaga pandangan.” ( HR al- Bukhari:5887)