عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ: سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: (مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ). قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: (يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا). )رواه البخاري: 5673)
Artinya : Dari Abu Syuraih Al-‘Adawi, ia berkata: “Kedua telingaku mendengar dan kedua mataku melihat ketika Nabi SAW berbicara dan bersabda: ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya dengan (memberinya) jamuan khusus.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah jamuannya itu, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Sehari semalam, dan (batas) menjamu tamu adalah tiga hari. Setelah itu, (menjamu lebih dari itu) adalah sedekah baginya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.'” “. ( H.R. Bukhari, 5673).
`Hadis riwayat Abu Syuraih Al-‘Adawi ini menjelaskan tentang ketika Rasulullah saw menjelaskan tentang ciri- ciri orang yang beriman kepada Allah dan yang beriman kepada hari Akhir yaitu terbagi kepada tiga . lalu seorang sahabat bertanya kepada rasul tentang jamuan yang diberikan kepada tamu, lalu Rasul menjawab bahwa hokum membeikan jamuan kepada tamu adalah wajib sehari semalam dan bahkan selama 3 hari , dan apabila lewat 3 hari maka anggaplah itu sebagai shadaqah.