عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ قَالَ: «طَلَاقُ السُّنَّةِ تَطْلِيقَةٌ وَهِيَ طَاهِرٌ فِي غَيْرِ جِمَاعٍ، فَإِذَا حَاضَتْ وَطَهُرَتْ طَلَّقَهَا أُخْرَى، فَإِذَا حَاضَتْ وَطَهُرَتْ طَلَّقَهَا أُخْرَى، ثُمَّ تَعْتَدُّ بَعْدَ ذَلِكَ بِحَيْضَةٍ» قَالَ الْأَعْمَشُ: سَأَلْتُ إِبْرَاهِيمَ فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ
Hadis dari Abdullah, bahwasanya ia berkata: “Talak sunnah adalah satu talak dalam keadaan suci tanpa berhubungan badan. Kemudian jika ia haid dan suci, ia menceraikannya lagi. Kemudian jika ia haid dan suci, ia menceraikannya lagi. Kemudian setelah itu ia menjalani iddah dengan satu kali haid.” Al-A’masy berkata: Aku bertanya kepada Ibrahim, maka ia mengatakan hal yang sama.
(HR Nasai No 3394)