Keharusan Hubungan Suami Istri Dengan Suami Kedua Setelah Talak Tiga Dari Suami Pertama


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ – يَعْنِي ثَلَاثًا – فَتَزَوَّجَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ، فَدَخَلَ بِهَا، ثُمَّ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يُوَاقِعَهَا أَتَحِلُّ لِزَوْجِهَا الْأَوَّلِ؟ قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَذُوقَ عُسَيْلَةَ الْآخَرِ، وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَهَا»

Hadis dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang lelaki yang menceraikan istrinya (yakni dengan tiga talak), lalu wanita itu menikah dengan lelaki lain, kemudian lelaki kedua itu menggaulinya, lalu menceraikannya sebelum menyetubuhinya. Apakah wanita itu halal bagi suaminya yang pertama? Aisyah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi suami yang pertama sampai suami yang terakhir merasakan madumu (jima’) dan kamu merasakan madunya (jima’).”

(HR Abu Daud No 2309)