Hukum Talak Saat Haid: Antara Talak Satu-Dua Dan Talak Tiga


عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ، إِذَا سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَيَقُولُ: أَمَّا إِنْ طَلَّقَهَا وَاحِدَةً أَوِ اثْنَتَيْنِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا ثُمَّ يُمْسِكَهَا حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً أُخْرَى ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَمَسَّهَا، وَأَمَّا إِنْ طَلَّقَهَا ثَلَاثًا، فَقَدْ عَصَيْتَ اللَّهَ فِيمَا أَمَرَكَ بِهِ مِنْ طَلَاقِ امْرَأَتِكَ، وَبَانَتْ مِنْكَ امْرَأَتُكَ»

Hadis dari Nafi’, ia berkata: Dahulu Ibnu Umar jika ditanya tentang seorang lelaki yang menceraikan istrinya dalam keadaan haid, maka ia berkata: “Adapun jika ia menceraikannya satu atau dua talak, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk merujuknya kembali kemudian mempertahankannya sampai ia mengalami haid yang lain kemudian suci, lalu menceraikannya sebelum menggaulinya. Adapun jika ia menceraikannya tiga talak, maka sungguh engkau telah bermaksiat kepada Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadamu mengenai talak istrimu, dan istrimu telah bain (tidak bisa dirujuk) darimu.”

(HR Nasai No 3557)