عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ ثَلَاثًا، فَتَزَوَّجَهَا رَجُلٌ، ثُمَّ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا، فَأَرَادَ زَوْجُهَا الْأَوَّلُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا، فَسُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: «لَا، حَتَّى يَذُوقَ الْآخِرُ مِنْ عُسَيْلَتِهَا مَا ذَاقَ الْأَوَّلُ»،
Hadis dari Aisyah, ia berkata: Seorang lelaki menceraikan istrinya dengan tiga talak, lalu wanita itu menikah dengan lelaki lain, kemudian lelaki kedua itu menceraikannya sebelum menggaulinya. Lalu suami pertama wanita itu ingin menikahinya kembali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Tidak (boleh), sampai suami yang terakhir merasakan madumu (jima’) sebagaimana yang dirasakan oleh suami yang pertama.”
(HR Bukhori No 5265)