Shalat Dhuha Merupakan Amalan Sunnah Cadangan pada Hari Hisab


حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ الضَّبِّىِّ قَالَ خَافَ مِنْ زِيَادٍ أَوِ ابْنِ زِيَادٍ فَأَتَى الْمَدِينَةَ فَلَقِىَ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فَنَسَبَنِى فَانْتَسَبْتُ لَهُ فَقَالَ يَا فَتَى أَلاَ أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا قَالَ قُلْتُ بَلَى رَحِمَكَ اللَّهُ. قَالَ يُونُسُ أَحْسِبُهُ ذَكَرَهُ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ ». (رواه ابي داود: ٨٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Al-Hasan, dari Anas bin Hakim Ad-Dhabbi,  ia berkata: Aku takut kepada Ziyad atau Ibn Ziyad, lalu aku datang ke Madinah dan bertemu dengan Abu Hurairah. Ia berkata: Lalu ia menanyaiku tentang nasabku, maka aku menyebutkan nasabku kepadanya. Ia berkata: Wahai pemuda, maukah aku menceritakan kepadamu sebuah hadis? Aku berkata: Tentu, semoga Allah merahmatimu. Yunus berkata: Aku kira ia menyebutkannya dari Nabi SAW, beliau bersabda: Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari amalan-amalan manusia adalah shalat. Ia berkata: Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya – padahal Dia lebih mengetahui -: Lihatlah pada shalat hamba-Ku, apakah ia menyempurnakannya ataukah menguranginya? Jika shalatnya sempurna, maka dituliskan baginya sempurna. Dan jika ia mengurangi sesuatu darinya, maka Dia berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka Dia berfirman: Sempurnakanlah kekurangan pada shalat wajib hamba-Ku dengan shalat sunnahnya. Kemudian amalan-amalan yang lain diambil (dihisab) seperti itu. (HR. Abu Daud: 864)

Hadis ini menjelaskan bahwa shalat Dhuha merupakan amalan sunnah cadangan yang akan menjadi penolong bagi seorang Muslim pada hari hisab (hari kiamat). Rasulullah SAW menyebutkan bahwa shalat Dhuha akan menjadi pemberat timbangan amal baik bagi orang yang melaksanakannya, terutama ketika amal-amal lain mungkin kurang sempurna. Shalat ini menjadi sarana untuk menutupi kekurangan dalam ibadah lainnya, memberikan kesempatan untuk mendapatkan ampunan, dan menjadi penolong pada hari ketika semua amal akan dihisab. Dengan demikian, shalat Dhuha bukan hanya ibadah yang memiliki keutamaan di dunia, tetapi juga menjadi pelindung dan penolong yang sangat penting di akhirat.