Delapan Rakaat Dhuha Adalah Amalan yang Mulia


حدَّثَنا أَبُو بَكْرِ بنُ أَبِي شَيْبَةَ، حدَّثَنا سُفْيَانُ بنُ عُيَيْنَةَ، عن يَزِيدَ بنِ أَبِي زِيَادٍ، عن عَبْدِ اللهِ بنِ الحَارِثِ، قالَ: سَأَلْتُ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ بنِ عَفَّانَ، وَالنَّاسُ مُتَوَافِرُونَ أَوْ مُتَوَافُونَ، عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى، فَلَمْ أَجِدْ أَحَدًا يُخْبِرُنِي أَنَّهُ صَلَّاهَا – يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، غَيْرَ أُمِّ هَانِئٍ، فَأَخْبَرَتْنِي أَنَّهُ صَلَّاهَا ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ.   (رواه ابن ماجه: ١٣٧٩)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah. Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Yazid bin Abi Ziyad dari Abdullah bin al-Harith, ia berkata: Aku pernah bertanya pada masa kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, sementara orang-orang waktu itu banyak, mengenai shalat Dhuha. Namun aku tidak menemukan seorang pun yang memberitahuku bahwa Nabi SAW melakukannya, kecuali Ummu Hani’. Ia memberitahuku bahwa Nabi SAW shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat. (HR. Ibn Majah: 1379)

Hadis ini menjelaskan bahwa melaksanakan shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat merupakan amalan yang mulia dan memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT. Jumlah rakaat yang lebih banyak menunjukkan kesungguhan seorang hamba dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya di waktu yang penuh berkah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW dan sebagian sahabat pernah melaksanakan delapan rakaat shalat Dhuha, yang menjadi tanda semangat mereka dalam meraih keridhaan Allah.