Amalan yang Disenangi Rasulullah


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ . (رواه مسلم: ١١٧٤)

Dari ‘Aisyah, ia berkata: Sama sekali belum pernah aku melihat Rasulullah SAW melakukan shalat sunnah dhuha, namun aku melakukan shalat sunnah dhuha. Rasulullah SAW meninggalkan amalan yang sebenarnya beliau suka melakukannya, karena beliau khawatir jangan-jangan para sahabat menirunya sehingga amalan itu diwajibkan. (HR. Muslim: 1174)

Hadis ini menjelaskan bahwa shalat Dhuha termasuk amalan yang disenangi oleh Rasulullah SAW, bahkan beliau menganjurkan dan mencontohkannya secara konsisten kepada para sahabat. Kecintaan Nabi terhadap ibadah ini terlihat dari banyaknya riwayat yang menunjukkan beliau tidak meninggalkan shalat Dhuha, baik dalam keadaan mukim maupun safar. Hal ini menunjukkan bahwa shalat Dhuha bukan hanya ibadah sunnah biasa, tetapi merupakan amalan istimewa yang memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullah SAW.