وَحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ – وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ – عَنْ أَيُّوبَ عَنِ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِىِّ أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ». (رواه مسلم: ١٧٨٠)
Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ibn Numair, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il – dan ia adalah Ibn Ulayyah – dari Ayyub, dari Al-Qasim Asy-Syaibani, bahwasanya Zaid bin Arqam melihat suatu kaum melaksanakan shalat Dhuha, maka ia berkata, Sungguh mereka telah mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ‘Shalatnya orang-orang yang kembali (kepada Allah dengan taat) adalah ketika anak-anak unta merasakan panasnya tanah.’ (HR. Muslim: 1780)
Hadis ini menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan shalat Dhuha adalah ketika matahari sudah cukup tinggi dan mulai terasa panas, yaitu sekitar waktu menjelang tengah hari. Rasulullah SAW menggambarkan waktu ini sebagai saat yang paling utama untuk mengerjakan shalat Dhuha, karena pada waktu tersebut, banyak orang yang mulai sibuk dengan kegiatan duniawi mereka. Dengan melaksanakan shalat Dhuha pada waktu ini, seseorang menunjukkan komitmen dalam beribadah kepada Allah meskipun sibuk dengan urusan dunia, serta mendapatkan pahala yang besar. Ini juga mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik, dan bahwa ibadah yang dilakukan pada waktu yang tidak umum bisa lebih bernilai di sisi Allah.