Amalan yang Diperintahkan Nabi SAW Kepada Abu Hurairah


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ وَالْغُسْلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ. قَالَ الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ : مُنْكَرٌ بِذِكْرِ الْغُسْلِ وَالْمَحْفُوظُ صَلَاةُ الضُّحَى. (رواه النسائ: ٢٤٠٥)

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan aku dengan tiga hal: tidur dalam keadaan witir, mandi pada hari Jumat, dan puasa tiga hari setiap bulan. Berkata Asy-Syaikh Al-Albani: Mungkar (lemah/diriwayatkan dengan kekeliruan) pada penyebutan mandi, dan yang mahfuzh (terjaga/kuat riwayatnya) adalah shalat Dhuha (HR. al-Nasa’i 2405)

Hadis ini menjelaskan bahwa shalat Dhuha termasuk amalan yang secara khusus diperintahkan oleh Nabi SAW kepada Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, sebagai bagian dari tiga wasiat penting yang beliau tekankan. Wasiat tersebut menunjukkan betapa besar nilai dan keutamaan shalat Dhuha di mata Rasulullah SAW, sehingga beliau menjadikannya bagian dari amalan yang harus dijaga oleh sahabat terdekatnya. Perintah ini juga menggambarkan perhatian Nabi dalam membimbing umatnya untuk selalu menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah-ibadah yang ringan namun sarat pahala.