Shalat Dhuha Merupakan Kebiasaan Salamah bin Akwa’


عن سَلَمَةَ بنِ الأَكْوَعِ: أنَّهُ كانَ يَأْتِي إلى سُبْحَةِ الضُّحَى، فَيَعْمِدُ إلى الأُسْطُوانَةِ دونَ المُصْحَفِ، فَيُصَلِّي قَرِيبًا مِنْهَا، فأقولُ له: ألا تُصَلِّي هاهُنَا؟ وأُشِيرُ إلى بَعْضِ نَواحِي المَسْجِدِ، فَيَقُولُ: إنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى هَذَا المَقَامَ. (رواه ابن ماجه: ١٤٣٠)

 Salamah bin al-Akwa‘ berkata: Beliau (yakni Salamah) biasa datang untuk shalat Dhuha, lalu menuju tiang (as-sutuwānah) yang berada di dekat mushaf, lalu ia shalat dekat dengannya. Maka aku berkata kepadanya: ‘Mengapa engkau tidak shalat di sini saja?’ — sambil aku menunjuk ke salah satu sudut masjid. Lalu ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku melihat Rasulullah SAW sengaja memilih tempat ini (untuk shalat).’ (HR. Ibn Majah: 1430)

Hadis ini menjelaskan bahwa shalat Dhuha merupakan kebiasaan Salamah bin Akwa’ raḍiyallāhu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi SAW yang dikenal karena kesalehannya. Kebiasaan beliau dalam menjaga shalat Dhuha menunjukkan betapa besar perhatian para sahabat terhadap amalan sunnah yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini menjadi bukti bahwa shalat Dhuha tidak hanya dilakukan oleh Nabi, tetapi juga dijadikan praktik rutin oleh para sahabat utama, sehingga memperkuat nilai dan keutamaannya dalam kehidupan seorang Muslim.