Nabi Melempar Jumrah pada Waktu Dhuha


عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمِي يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى وَأَمَّا بَعْدَ ذَلِكَ فَبَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يَرْمِي بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ إِلَّا بَعْدَ الزَّوَالِ .(رواه الترمذي :٨١٨)

Dari Jabir ia berkata: Nabi SAW melempar (jumrah) pada hari Nahr waktu dhuha Adapun setelah hari itu beliau melempar setelah matahari tergelincir. Abu ‘Isa berkata: Ini merupakan hadis hasan shahih dan diamalkan oleh kebanyakan ulama. Bahwasanya beliau tidak melempar jumrah setelah hari Nahr kecuali setelah matahari tergelincir. (HR. al-Tirmidzi: 818)

Keutamaan dan keberkahan waktu tersebut untuk melaksanakan amal ibadah. Tindakan Nabi ini memberi isyarat bahwa waktu Dhuha bukan hanya baik untuk shalat, tetapi juga menjadi waktu yang dipilih beliau dalam menunaikan bagian dari manasik haji. Ini menegaskan bahwa Dhuha adalah waktu yang istimewa, penuh dengan ketenangan dan kemudahan, sehingga cocok digunakan untuk berbagai bentuk ibadah yang memerlukan kekhusyukan dan kekuatan fisik