Hadis 33


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الْحَدِيثَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِىَ أَمَانَةٌ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَإِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ أَبِى ذِئْبٍ

Artinya:          Hadis dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apabila seseorang menyampaikan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh (memperhatikan orang lain), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR. Sunan At-Tirmizdi no.2086)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang etika dalam berkomunikasi dan pentingnya menjaga kepercayaan orang lain. Ketika seseorang mempercayakan sebuah pembicaraan kepada kita, baik secara eksplisit maupun implisit, maka kita wajib menjaganya sebagai amanah. Mengkhianati amanah dalam percakapan dapat merusak hubungan, menimbulkan fitnah, dan merupakan perbuatan yang tidak terpuji dalam Islam. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi, serta senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya.