Konsekuensi Bagi Orang Yang Mempersulit Jalan


عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ كَذَا وَكَذَا، فَضَيَّقَ النَّاسُ الْمَنَازِلَ وَقَطَعُوا الطَّرِيقَ، فَبَعَثَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [ص:42] مُنَادِيًا يُنَادِي فِي النَّاسِ «أَنَّ مَنْ ضَيَّقَ مَنْزِلًا أَوْ قَطَعَ طَرِيقًا فَلَا جِهَادَ لَهُ»

Hadis Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhani, dari ayahnya, ia berkata: “Aku berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan ini dan itu. Maka orang-orang mempersempit tempat tinggal dan memutus jalan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang juru seru untuk menyeru kepada orang-orang: Sesungguhnya barangsiapa mempersempit tempat tinggal atau memutus jalan, maka tidak ada jihad baginya.

(H.R. Abu Daud)