عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِى النَّوْمِ فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ. فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو يُلَقِّنُهَا مَنْ بَلَغَ مِنْ وَلَدِهِ وَمَنْ لَمْ يَبْلُغْ مِنْهُمْ كَتَبَهَا فِى صَكٍّ ثُمَّ عَلَّقَهَا فِى عُنُقِهِ. (رواه الترمذى: ٣٨٧٢)
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Terjemahan hadis:
Hadis ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang diantara kalian terbangun dalam tidur hendaknya ia mengucapkan a’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min ghadhabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisy syayaathiina wa an yahdhuruun (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaanNya dan dari kejahatan para hambaNya serta dari bisikan setan dan dari kedatangannya kepadaku.” Abdullah bin ‘Umar mengajarkannya kepada anaknya yang telah baligh, dan yang belum baligh diantara mereka. Ia menulisnya di dalam kartu kemudian menggantungkannya di lehernya. (H.R. Tirmidzi: 3872)
Abu Isa berkata: hadits ini adalah hadits hasan gharib
Penjelasan Hadis:
Hadis ini menjelaskan doa yang dianjurkan dibaca ketika seseorang terkejut atau merasa takut dalam tidurnya (misalnya karena mimpi buruk atau gangguan jin/setan). Rasulullah SAW mengajarkan agar seseorang yang mengalami kegelisahan atau rasa takut saat tidur untuk membaca: “A‘ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min ghadabihi wa ‘iqābihi wa sharri ‘ibādihi, wa min hamazātis-syayāṭīn wa an yaḥḍurūn”, yang artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, dan dari siksa-Nya, serta dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari bisikan-bisikan setan serta kehadiran mereka.” Nabi SAW menegaskan bahwa doa ini akan melindungi orang yang membacanya dari bahaya. Hadis ini juga menyebutkan bahwa ‘Abdullāh bin ‘Amr seorang sahabat yang meriwayatkan hadis ini membiasakan anak-anaknya menghafalkan doa ini. Bahkan, bagi anak-anaknya yang belum bisa menghafal, ia menuliskannya di atas kertas dan menggantungkannya di leher mereka sebagai bentuk penjagaan. Ini menunjukkan pentingnya mendidik anak-anak sejak dini dengan doa-doa perlindungan, serta keyakinan kuat para sahabat akan keberkahan dan perlindungan yang Allah berikan melalui kalimat-kalimat-Nya. Hadis ini mengajarkan umat Islam untuk menjadikan zikir dan doa sebagai benteng spiritual, terutama saat tidur, waktu di mana manusia berada dalam keadaan lemah dan tak sadar sepenuhnya.