عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ،حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ،عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ (رواه البخاري:٢٨٣٦ )
Terjemahan Hadis:
Dari Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā, dari Nabi SAW,telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami ‘Āṣim bin Muḥammad bin Zayd bin ‘Abdillāh bin ‘Umar, dari ayahnya, dari Ibnu Umar,dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:”Seandainya manusia mengetahui apa yang terkandung dalam kesendirian, niscaya tidak ada seorang pun yang melakukan perjalanan malam sendirian.(HR. al-Bukhari: 2836)
Penjelasan Hadis :
Hadis ini menunjukkan peringatan Nabi Muhammad SAW tentang bahaya atau keburukan yang mungkin ada dalam melakukan perjalanan sendirian di malam hari, khususnya tanpa teman atau pendamping. Beliau mengisyaratkan bahwa jika manusia benar-benar mengetahui apa yang terkandung dalam “الوَحْدَة” (kesendirian), maka tidak akan ada penunggang atau musafir yang berani melakukan perjalanan malam sendirian. Kata “الوَحْدَة” bisa dimaknai sebagai kondisi sendiri tanpa teman, yang rentan terhadap gangguan, baik dari sisi fisik (seperti perampokan atau binatang buas) maupun non-fisik (seperti gangguan makhluk halus atau perasaan takut yang berlebihan). Selain itu, secara ruhani dan psikologis, kesendirian yang berlebihan juga dapat menimbulkan was-was, kecemasan, atau menjauhkan seseorang dari suasana sosial dan keamanan. Hadis ini menjadi bentuk nasihat kehati-hatian dalam menjalani aktivitas yang rawan, dan juga menunjukkan perhatian Islam terhadap keselamatan jiwa dan akal manusia. Dalam konteks modern, hadis ini tetap relevan sebagai peringatan untuk tidak bepergian sendiri di waktu yang rawan, demi menjaga keselamatan dan ketenangan diri.