حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ، وَقُلْ:اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ،فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ».قُلْتُ: أَسْتَذْكِرُهُنَّ، وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ؟قَالَ: «لَا، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ».
(رواه البخاري: ٢٤٤)
Terjemahan hadis :
Hadis dari al-Bara bin Azib RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadaku Apabila engkau hendak berbaring di tempat tidurmu, maka berwudulah sebagaimana wudhu untuk salat. Kemudian tidurlah di sisi kananmu dan ucapkanlah: Ya Allah, aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh rasa takut dan harap kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat keselamatan dari siksa-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada nabi-Mu yang Engkau utus. Jika engkau wafat setelah mengucapkan doa tersebut, maka engkau wafat dalam keadaan fitrah atau tetap dalam agama yang lurus. Maka jadikanlah doa itu sebagai ucapan terakhir yang engkau katakan sebelum tidur.Al-Bara berkata bahwa ia mengulangi bacaan tersebut di hadapan Rasulullah SAW untuk menghafalkannya, namun ia mengucapkan: dan kepada rasul-Mu yang Engkau utus. Maka beliau bersabda: Bukan begitu, tetapi katakanlah: dan kepada nabi-Mu yang Engkau utus. (HR.al-Bukhari: 244)
Penjelasan Hadis :
Hadis yang diriwayatkan oleh al-Barā’ bin ‘Āzib RA ini berisi wasiat Nabi Muhammad SAW tentang adab dan amalan yang dianjurkan sebelum tidur. Dalam hadis ini, Rasulullah SAW memberikan petunjuk langsung kepada al-Barā’ agar ketika hendak berbaring untuk tidur, ia terlebih dahulu berwudu sebagaimana wudu untuk shalat. Hal ini menunjukkan pentingnya kesucian jasmani sebelum tidur sebagai bentuk kesiapan rohani dan ibadah. Setelah itu, Nabi SAW menyuruhnya untuk berbaring di sisi kanan, yang merupakan sunnah dalam posisi tidur. Kemudian, Nabi SAW mengajarkan doa yang penuh makna tauhid dan penyerahan diri secara total kepada Allah. Dalam doa tersebut, seseorang mengikrarkan bahwa dirinya menyerahkan wajahnya (yakni seluruh keberadaannya) kepada Allah, memasrahkan segala urusannya, dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya karena takut dan harap hanya kepada-Nya. Doa itu juga menegaskan bahwa tidak ada tempat perlindungan kecuali kepada Allah, serta menyatakan keimanan kepada kitab yang Allah turunkan dan nabi yang diutus-Nya. Menariknya, ketika al-Barā’ mengulangi doa ini, ia mengganti “nabiyyika” (nabimu) dengan “rasūlika” (rasulmu), namun Nabi SAW meluruskannya dan tetap menegaskan penggunaan lafaz “nabiyyika” sesuai redaksi asli. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Shahīh-nya nomor 244 dan menunjukkan pentingnya menjaga adab tidur dalam Islam, memulai dengan wudu, posisi tidur yang dianjurkan, serta doa penyerahan diri kepada Allah yang bisa menjadi penutup amal seseorang sebelum tidur, seakan bersiap menghadapi kematian yang bisa saja datang kapan saja.