Hadis 38


عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِى مِنْهَا وَمَا نَذَرُ قَالَ « احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ الْقَوْمُ بَعْضُهُمْ فِى بَعْضٍ قَالَ  إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لاَ يَرَيَنَّهَا أَحَدٌ فَلاَ يَرَيَنَّهَا ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ أَحَدُنَا خَالِيًا قَالَ اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ

(رواه أبى داود: ٤٠١٩)

Terjemahan Hadis:
Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata:
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, tentang aurat kami, apa yang boleh kami tutupi dan apa yang boleh kami biarkan?”Beliau bersabda:“Jagalah auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak perempuanmu.”Aku bertanya, “Bagaimana jika seseorang berada di tengah-tengah suatu kaum (berkumpul)?”
Beliau bersabda:“Jika engkau mampu untuk tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka jangan sampai ia terlihat.”Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika salah seorang dari kami sedang sendirian?”
Beliau menjawab:“Allah lebih berhak untuk disegani (dimalui) daripada manusia.”( HR. abu Dawud: 4019)

Penjelasan Hadis :
Hadis ini mengajarkan prinsip penting dalam Islam tentang menjaga aurat dalam berbagai situasi. Nabi SAW menegaskan bahwa aurat harus dijaga dan tidak boleh diperlihatkan kepada siapa pun, kecuali kepada istri atau budak perempuan (dalam konteks perbudakan yang telah usai di zaman sekarang). Ketika seseorang berada dalam kerumunan atau lingkungan bersama orang lain, ia tetap dituntut menjaga auratnya sejauh mungkin agar tidak terlihat. Bahkan ketika seseorang sedang sendirian dan tidak ada manusia lain yang melihat, Nabi SAW tetap memerintahkan untuk menjaga aurat, karena Allah SWT selalu melihat. Ini menunjukkan bahwa rasa malu kepada Allah lebih utama daripada rasa malu kepada manusia.

Hadis ini juga menjadi dasar dari etika berpakaian, mandi, dan berada di ruang pribadi, serta menjadi pengingat akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan, baik terang-terangan maupun dalam kesendirian. Spiritualitas yang ditanamkan dalam hadis ini adalah rasa ihsan, yaitu beribadah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika tidak bisa, yakinlah bahwa Allah melihat kita.