عَنْ عَلِىٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُوقِظُ أَهْلَهُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذى:٨۰۰)
Terjemahan Hadis:
Hadis dari Ali RA,bahwa Nabi SAW biasa membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Abu ‘Isa (Imam Tirmidzi) berkata: “Hadis ini hasan sahih.”(HR.Tirmidzi: 800)
Penjelasan Hadis :
Hadis ini menunjukkan kesungguhan Nabi Muhammad SAW dalam memanfaatkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, khususnya dalam menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah. Salah satu bentuk kesungguhan itu adalah membangunkan keluarganya, agar mereka turut serta dalam ibadah malam seperti salat, doa, dan dzikir. Ini menegaskan bahwa ibadah di akhir Ramadan tidak hanya dilakukan secara pribadi, tetapi juga dalam semangat keluarga dan kebersamaan. Tindakan Nabi SAW ini menunjukkan pentingnya peran kepala keluarga dalam membina spiritualitas anggota keluarganya, terutama pada waktu-waktu utama seperti sepuluh malam terakhir Ramadan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Penilaian Imam Tirmidzi bahwa hadis ini “hasan sahih” menegaskan keabsahan riwayat ini dan menguatkan praktik tersebut sebagai sunnah Nabi yang patut diikuti.