عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ رضى الله عنه أَنَّهُ أَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِى شَيْئًا أَقُولُهُ إِذَا أَوَيْتُ إِلَى فِرَاشِى قَالَ « اقْرَأْ ( قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ ». قَالَ شُعْبَةُ أَحْيَانًا يَقُولُ مَرَّةً وَأَحْيَانًا لاَ يَقُولُهَا( رواه الترمذى: ٣٧٣١)
Terjemahan Hadis :
Hadis dari Farwah bin Naufal RA, bahwa ia datang kepada Nabi SAW lalu berkata, Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku ucapkan ketika aku berbaring di tempat tidurku. Beliau bersabda, “Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun (Surah Al-Kafirun), karena sesungguhnya ia merupakan perlindungan dari kesyirikan. Syubah berkata, Terkadang ia (periwayat) menyebutkan kata sekali (marrah), dan terkadang tidak menyebutkannya. (HR. At-Tirmidzi: 3731)
Penjelasan Hadis :
Hadis ini menceritakan tentang permintaan sahabat Faruah bin Nawfal raḍiyallāhu ‘anhu kepada Nabi SAW magar diajarkan suatu amalan yang dapat ia baca ketika hendak tidur. Nabi SAW pun memberikan bimbingan yang ringkas namun sangat bermakna, yakni membaca surat “Qul yā ayyuhal-kāfirūn” (Surat al-Kāfirūn) sebelum tidur. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa surat tersebut merupakan “baraāh minasy-syirk”, yaitu bentuk pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan. Ini menunjukkan bahwa membaca surat al-Kāfirūn sebelum tidur memiliki nilai tauhid yang tinggi, karena mengandung penegasan sikap seorang Muslim dalam menolak penyembahan selain kepada Allah. Hal ini mengajarkan kepada umat Islam agar menutup hari-harinya dengan keimanan yang bersih dari syirik dan memperbaharui komitmennya kepada tauhid. Tambahan dari perawi hadis, yaitu Syu’bah, menyebutkan bahwa kadang-kadang ia meriwayatkan kata “marrah” (sekali), dan kadang-kadang tidak menyebutkannya. Ini menunjukkan adanya sedikit variasi dalam periwayatan, namun tidak mengurangi makna dan keutamaan membaca surat al-Kāfirūn sebelum tidur sebagai bentuk pengokohan akidah dan penjagaan spiritual saat malam.