حَدَّثَنَا سَالِمٌ قَالَ سَمِعْتُ عُمَيْرًا مَوْلَى أُمِّ الْفَضْلِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَبَعَثَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم بِشَرَابٍ، فَشَرِبَهُ(رواه البخاري: ١٩٨٠)
Artinya: hadis dari Salim ia berkata Aku mendengar Umair, budak Ummul Fadhl, dari Ummul Fadhl, bahwa orang-orang bingung mengenai puasa Nabi SAW pada hari Arafah, maka Ummul Fadhl mengirimkan minuman kepada Nabi SAW lalu beliau meminum nya.(HR al-Bukhari :1980)
Hadis ini menceritakan tentang sebuah peristiwa pada hari Arafah, ketika ada keraguan di kalangan orang-orang tentang apakah Nabi SAW sedang berpuasa atau tidak. Ummul Fadhl, yang merupakan salah satu istri Nabi SAW, mengirimkan minuman kepada beliau untuk memastikan apakah beliau berpuasa atau tidak. Nabi SAW meminum minuman tersebut, yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa pada hari Arafah tahun itu. Hadis ini juga menunjukkan bahwa Nabi SAW kadang-kadang tidak berpuasa pada hari Arafah, terutama ketika beliau sedang melakukan haji, yang dapat menjadi petunjuk bagi umatnya dalam hal ini. Meskipun beberapa orang ragu, perbuatan Nabi SAW ini menegaskan bahwa minum di hari Arafah dapat diterima, dan tidak semua orang diwajibkan berpuasa pada hari tersebut, khususnya bagi mereka yang melaksanakan haji.