سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ(رواه مسلم: ٥٠٨)
Artinya: Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata: ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat? Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat. (HR Muslim: 508)
Hadis ini menjelaskan ketentuan syariat Islam bahwa wanita yang mengalami haid wajib mengganti puasa yang terlewat, namun tidak wajib mengganti shalat yang ditinggalkan selama masa haid. Ketentuan ini didasarkan pada praktik dan perintah yang ada pada masa Rasulullah SAW dan merupakan bentuk keringanan (rukhsah) dalam agama Islam