عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُزَابَنَةِ، وَالْمُحَاقَلَةِ، وَالْمُخَابَرَةِ، وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُشَقَّحَ. قَالَ: قُلْتُ لِسَعِيدٍ: مَا تُشَقَّحُ؟ قَالَ: تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ، وَيُؤْكَلُ مِنْهَا. [رواه مسلم:1536]
Artinya: Hadis dari Jabir bin Abdullah dia berkata: Rasulullah SAW melarang jual beli muzabanah, muhaqalah dan mukhabarah, melarang menjual buah hingga terlihat matang.” Saya bertanya kepada Sa’id: “Bagaimana terlihat matangnya?” Dia menjawab: “Jika telah memerah dan menguning dan layak untuk dimakan.” (HR.Muslim:1536)
Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melarang beberapa bentuk jual beli yang mengandung unsur ketidakjelasan (gharar) dan potensi penipuan, seperti muzabanah, muhaqalah, dan mukhabarah. Selain itu, beliau juga melarang menjual buah-buahan sebelum terlihat matang. Dalam hadis ini, dijelaskan bahwa tanda-tanda buah telah matang adalah ketika sudah memerah atau menguning, serta layak untuk dimakan.
· Muzabanah adalah jual beli buah yang masih di pohon dengan ditukar buah yang sudah dipetik dan ditakar.
· Muhaqalah adalah jual beli hasil panen yang belum dipanen dengan makanan pokok yang ditakar.
· Mukhabarah adalah sistem bagi hasil pertanian di mana tanah dikerjakan oleh orang lain dengan syarat mendapatkan sebagian hasilnya tanpa kejelasan nilai.
Larangan terhadap bentuk-bentuk transaksi ini merupakan bagian dari prinsip Islam dalam menjaga keadilan, menghindari kerugian, dan mencegah spekulasi dalam jual beli. Islam menekankan pentingnya kepastian dan kejelasan dalam setiap akad agar tidak ada pihak yang dirugikan.