قَالَ الإِمَامُ مُسْلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ:
وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ وَصَفَ تَطَوُّعَ صَلَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
فَكَانَ لَا يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ.
قَالَ يَحْيَى أَظُنُّنِي قَرَأْتُ فَيُصَلِّي أَوْ أَلْبَتَّةَ.
Imam Muslim rahimahullah berkata:
Dan telah menceritakan kepada kami Yahya ibn Yahya, dia berkata: Saya membaca hadis di hadapan Malik, dari Nafi’, dari Abdullah ibn Umar, bahwa ia mensifati shalat tathawwu’ Rasulullah saw, ia berkata:
Biasanya beliau tidak shalat setelah shalat Jum’at hingga beliau pulang, kemudian beliau baru shalat dua raka’at di rumahnya.
Yahya berkata: Saya menduga kuat, bahwa saya telah membacakan: Maka (beliau) shalat atau al-Batah (benar-benar).
Pesan-pesan hadis:
- Tidak semua shalat fardhu ada sunnah qobliyah dan ba’diyahnya.
- Rasulullah selalu memulakan shalat fardhu dengan Qobliyah dan mengakhirinya dengan Ba’diyah.
- Shalat-shalat sunnah ini Rasulullah saw lakukan di rumah.