Hadis 20


قَالَ الإِمَامُ مُسْلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ:

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ.

Imam Muslim rahimahullah berkata:

Telah menceritakan kepada kami Yahya ibn Yahya, dia berkata: Saya membaca hadis di hadapan Malik, dari Nafi’, dari Ibn Umar ra dari Nabi saw, bahwa beliau menyebutkan Ramadhan, dan beliau pun bersabda:

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat Hilal (bulan bati) dan jangan pula berbuka hingga melihatnya (terbit) kembali. Namun, jika bulan itu tertutup dari pandanganmu, maka hitunglah.

Pesan-pesan hadis:

  1. Perintah berpuasa Ramadhan setelah melihat hilal/bulan.
  2. Perintah untuk membatalkan puasa Ramadhan ketika bulan syawal sudah tiba.
  3. Perintah untuk melengkapi hitungan Sya’ban menjadi 30 jika hilal tidak nampak.

Sahih Muslim, hadis no. 1795.
Selain oleh Muslim, hadis ini juga diriwayatkan oleh: Al-Bukhari, hadis no. 1773; al-Nasa’i, hadis no. 2091-2093; Abu Daud, hadis no. 1976; Ibn Majah, hadis no. 1644; Ahmad, hadis no. 4258, 5042 dan 6041; Malik, hadis no. 557 dan 558; dan al-Darimi, hadis no. 1622.