عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَعَنْ الْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهَا وَأَنْ لَا تُبَاعَ إِلَّا بِالدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ إِلَّا الْعَرَايَا (رواه البخاري: ٢٢٥٢)
Artinya : Dari ‘Atha’ dia mendengar Jabir bin ‘Abdullah radliyallahu ‘anhuma: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Al Mukhabarah, Al Muhaqalah, Al Muzabanah dan jual beli buah-buahan (dari pohon) hingga telah nampak baiknya dan tidak boleh dijual sesuatupun darinya selain dengan dinar dan dirham kecuali ‘Ariyyah. (HR al-Bukhari: 2252)
Hadis ini menjelaskan larangan Nabi SAW terhadap beberapa bentuk transaksi yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan ketidakadilan, yaitu: (1) al-Mukhabarah (bagi hasil tanah dengan sistem tertentu yang merugikan), (2) al-Muhaqalah (jual beli hasil panen yang masih di tangkai), (3) al-Muzabanah (jual beli kurma masih di pohon dengan yang sudah dipetik), serta melarang jual beli buah-buahan sebelum nampak kualitasnya (tampak layak panen). Nabi menetapkan bahwa transaksi harus dilakukan dengan alat tukar yang jelas (dinar/dirham), kecuali untuk ‘Ariyyah (pemberian buah dalam jumlah kecil untuk konsumsi langsung) yang diperbolehkan dengan taksiran