عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُشْقِحَ قَالَ قُلْتُ لِسَعِيدٍ مَا تُشْقِحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا ( رواه مسلم:٣٩٩٣ )
Artinya : Dari Jabir bin Abdullah dia berkata: Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah, muhaqalah dan mukhabarah, melarang menjual buah hingga terlihat matang.” Saya bertanya kepada Sa’id: “Bagaimana terlihat matangnya?” Dia menjawab: “Jika telah memerah dan menguning dan layak untuk dimakan.” (HR Muslim: 3993)
Hadis ini menegaskan larangan Nabi SAW terhadap tiga bentuk transaksi yang terlarang: (1) al-Muzabanah (jual beli kurma masih di pohon dengan kurma yang sudah dipetik), (2) al-Muhaqalah (jual beli biji-bijian yang masih di tangkai dengan yang sudah dipanen), dan (3) al-Mukhabarah (sistem bagi hasil pertanian yang merugikan salah satu pihak). Nabi juga melarang menjual buah-buahan sebelum matang sempurna, di mana kematangan ditandai dengan perubahan warna (merah/kuning) dan layak dikonsumsi. Larangan ini bertujuan menghindari gharar (ketidakpastian) dan ketidakadilan dalam transaksi. Pengecualian hanya berlaku untuk ‘Ariyyah (pemberian buah dalam jumlah terbatas untuk konsumsi langsung).