Hadis 33


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ تُشْتَرَى النَّخْلُ حَتَّى تُشْقِهَ وَالْإِشْقَاهُ أَنْ يَحْمَرَّ أَوْ يَصْفَرَّ أَوْ يُؤْكَلَ مِنْهُ شَيْءٌ وَالْمُحَاقَلَةُ أَنْ يُبَاعَ الْحَقْلُ بِكَيْلٍ مِنْ الطَّعَامِ مَعْلُومٍ وَالْمُزَابَنَةُ أَنْ يُبَاعَ النَّخْلُ بِأَوْسَاقٍ مِنْ التَّمْرِ وَالْمُخَابَرَةُ الثُّلُثُ وَالرُّبُعُ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ قَالَ زَيْدٌ قُلْتُ لِعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَسَمِعْتَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ هَذَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ (رواه مسلم:  ٨٣)

Artinya : Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli Muhaqalah, Muzabanah dan Mukhabarah, dan menjual buah kurma sampai terlihat matang, dan matangnya adalah jika telah memerah atau menguning atau sudah layak untuk dimakan. Muhaqalah ialah menjual hasil tanaman yang dibayar dengan makanan pokok dengan takaran yang jelas, muzabanah ialah menjual kurma basah yang masih di pohon dengan beberapa wasaq kurma kering, mukhabarah ialah membagi hasil ladang menjadi sepertiga, seperempat atau yang serupa dengan itu (sementara benihnya dari yang mempunyai ladang). Zaid berkata: Saya bertanya kepada ‘Atha` bin Abi Rabah: “Apakah kamu mendengarnya Jabir bin Abdullah menyebutkan ini dari Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab: “Ya.”.” (HR Muslim: 83)

Dari beberapa hadis diatas dan hadis ini juga, Rasulullah SAW secara tegas melarang segala bentuk-bentuk jual beli yang mengandung unsur ketidakjelasan (gharar), spekulasi, atau ketidakadilan yang bisa menyebabkan riba dan merugikan salah satu pihak. Di antara bentuk jual beli yang dilarang tersebut adalah Muzaabanah. Muzaabanah adalah jual beli yang dilakukan dengan cara menukar buah segar yang masih belum dipanen seperti kurma atau anggur dengan buah kering yang telah ditimbang atau ditakar, dengan harapan jika hasil panennya banyak maka akan untung, dan jika sedikit maka akan rugi. Praktik ini dilarang karena hasil dari buah segar belum jelas dan pasti timbangannya, sehingga bisa menimbulkan penipuan dan ketidakadilan antara penjual dan pembeli. Islam mengharuskan dalam jual beli adanya kepastian nilai dan barang yang dipertukarkan, sehingga tidak ada yang dirugikan. Namun demikian, Rasulullah SAW memberikan pengecualian dalam kasus ‘Ariyyah, yaitu memperbolehkan penduduk rumah menukar hasil kurma segar dari satu atau dua pohon (yang diperkirakan hasilnya) dengan kurma kering untuk dikonsumsi sendiri, bukan untuk diperdagangkan. Ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam Islam untuk memudahkan urusan sehari-hari umat dengan syarat tetap menjaga keadilan dan menghindari riba.