Hadis 28


عَنْ بُشَيْرِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ مِنْ أَهْلِ دَارِهِمْ مِنْهُمْ سَهْلُ بْنُ أَبِي حَثْمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ بِالتَّمْرِ وَقَالَ ذَلِكَ الرِّبَا تِلْكَ الْمُزَابَنَةُ إِلَّا أَنَّهُ رَخَّصَ فِي بَيْعِ الْعَرِيَّةِ النَّخْلَةِ وَالنَّخْلَتَيْنِ يَأْخُذُهَا أَهْلُ الْبَيْتِ بِخَرْصِهَا تَمْرًا يَأْكُلُونَهَا رُطَبًا (رواه مسلم: ٦٧)

Artinya : Dari Basyir bin Yasar, dari beberapa sahabat Rasulullah ﷺ yang tinggal di rumah beliau di antaranya Sahl bin Abi Hutsmah bahwa Rasulullah ﷺ melarang jual beli buah (seperti kurma basah) dengan kurma kering (yang sudah dipanen), dan beliau berkata, “Itu termasuk riba, itulah yang disebut muzābanah (jual beli yang dilarang).” Namun, beliau membolehkan jual beli ‘ariyyah, yaitu satu atau dua pohon kurma yang boleh diambil hasilnya oleh penghuni rumah berdasarkan taksiran (perkiraan jumlah buahnya), lalu mereka menukarnya dengan kurma kering untuk dimakan saat masih segar.” (HR Muslim 67)

Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli buah segar (seperti kurma basah) dengan kurma kering, karena transaksi seperti itu termasuk riba dan dikenal dengan istilah muzabanah, yaitu jual beli yang mengandung ketidakjelasan takaran dan potensi penipuan. Namun, beliau membolehkan jual beli ‘ariyyah, yaitu pengecualian khusus bagi orang yang membutuhkan, di mana satu atau dua pohon kurma boleh ditukar dengan kurma kering berdasarkan taksiran yang adil, agar bisa segera dikonsumsi. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga keadilan dan kejelasan dalam transaksi, tetapi tetap memberikan kelonggaran dalam situasi tertentu untuk kemaslahatan.