عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ، فَأُتِيَ بِصَبِيٍّ فَبَالَ عَلَيْهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ بَوْلَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ [ش (فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ): أَيْ يَدْعُو لَهُمْ وَيَمْسَحُ عَلَيْهِمْ، وَأَصْلُ الْبَرَكَةِ ثُبُوتُ الْخَيْرِ وَكَثْرَتُهُ. (وَيُحَنِّكُهُمْ): قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ: التَّحْنِيكُ أَنْ يَمْضُغَ التَّمْرَ أَوْ نَحْوَهُ ثُمَّ يَدْلُكَ بِهِ حَنَكَ الصَّغِيرِ، وَفِيهِ لُغَتَانِ مَشْهُورَتَانِ: حَنَكْتُهُ وَحَنَّكْتُهُ بِالتَّخْفِيفِ وَالتَّشْدِيدِ، وَالرِّوَايَةُ هُنَا “فَيُحَنِّكُهُمْ” بِالتَّشْدِيدِ وَهِيَ أَشْهَرُ بِاللُّغَتَيْنِ] (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ٢٨٦)
Artinya: Dari Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan kepada beliau anak-anak kecil, lalu beliau memberkahi mereka dan mentahnik mereka. Kemudian didatangkan seorang bayi, lalu bayi itu kencing di atas beliau. Maka beliau meminta air dan menyiramkannya pada bekas kencing tersebut dan tidak mencucinya. [Syarah: (Yubarriku ‘alaihim): yaitu beliau mendoakan mereka dan mengusap mereka, dan asal berkah adalah tetapnya kebaikan dan banyaknya. (Yuhannikuhum): Ahli bahasa berkata bahwa tahnik adalah mengunyah kurma atau semisalnya kemudian menggosokkannya ke langit-langit mulut bayi. Di dalamnya ada dua bahasa yang masyhur, hannaktu dan hannaktu dengan takhfif dan tasydid, dan riwayat di sini adalah yuhannikuhum dengan tasydid dan ini lebih masyhur dalam kedua bahasa.] (HR. Muslim: 286)
Hadis ini menjelaskan bahwa salah satu Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak kecil yang dibawa kepada beliau. Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka dan melakukan tahnik, yaitu mengunyah kurma atau makanan manis lainnya kemudian menggosokkannya ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir.
Berdasarkan hadis ini, dapat kita memahami kasih sayang dan perhatian Nabi terhadap anak-anak, serta disunnahkannya tindakan memberkahi dan mentahnik bayi.
Hadis ini juga menunjukkan kemuliaan akhlak Nabi yang tidak merasa risih ketika seorang bayi kencing padanya, dan beliau hanya membersihkannya dengan menyiramkan air tanpa mencucinya secara berlebihan, yang menjadi dasar bagi keringanan dalam masalah najis bayi yang belum mengonsumsi makanan selain air susu ibu.