عَنْ أَبِي أُمَامَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا) [ش (مَائِدَتَهُ): بَقِيَّةُ طَعَامِهِ، أَوْ هِيَ نَفْسُ الطَّعَامِ، أَوْ هِيَ إِنَاؤُهُ. (طَيِّبًا): خَالِصًا. (مُبَارَكًا فِيهِ): كَثِيرُ الْبَرَكَةِ. (غَيْرَ مَكْفِيٍّ): أَيْ مَا أَكَلْنَاهُ لَيْسَ كَافِيًا عَمَّا بَعْدَهُ، بَلْ نِعَمُكَ مُسْتَمِرَّةٌ عَلَيْنَا غَيْرُ مُنْقَطِعَةٍ طُولَ أَعْمَارِنَا. (وَلَا مُوَدَّعٍ): مِنَ الْوَدَاعِ، أَيْ لَيْسَ آخِرَ طَعَامِنَا] (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ :٥١٤٢ )
Artinya: Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengangkat hidangannya (setelah selesai makan), beliau mengucapkan, “Alhamdulillahi katsiran thayyiban mubarakan fihi ghaira makfiyyin wa la muwadda’in wa la mustaghnan ‘anhu rabbana.” [Syarah: (Maa’idatihi): sisa makanannya atau makanannya itu sendiri atau wadahnya. (Thayyiban): suci, baik. (Mubarakan fihi): banyak keberkahan di dalamnya. (Ghaira makfiyyin): apa yang kami makan tidaklah cukup untuk setelahnya, bahkan nikmat-Mu terus menerus atas kami tidak terputus sepanjang hidup kami. (Wa la muwadda’in): bukan makanan terakhir kami.] (HR. Bukhari: 5142)
Hadis ini menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengucap syukur setelah selesai makan. Beliau mengangkat hidangannya dan melafadzkan doa yang mengandung pujian kepada Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah.
Berdasarkan hadis ini, dapat kita memahami pentingnya mengiringi nikmat makanan dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah. Doa yang diajarkan oleh Nabi ini juga mengandung pengakuan bahwa nikmat Allah tidak terbatas dan terus menerus dilimpahkan kepada hamba-Nya, serta harapan bahwa makanan yang telah disantap bukanlah yang terakhir.