عَنْ عَقِيلِ بْنِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى جُشَمٍ فَقَالُوا بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ فَقَالَ لاَ تَقُولُوا هَكَذَا وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِمْ )رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ: ١٩٨١)
Artinya: Dari Aqil bin Abi Thalib, bahwa beliau menikahi seorang wanita dari suku Bani Jusham. Lalu orang-orang berkata, ‘Semoga kebahagiaan dan banyak anak untuk kalian.’ Aqil bin Abi Thalib berkata, ‘Jangan mengatakan demikian, tetapi katakanlah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu: “اللهم بارك لهم وبارك عليهم” (Ya Allah, berikanlah berkah kepada mereka dan berikanlah berkah kepada mereka).”(HR.Ibnu Majah: 1971)
Hadis ini menjelaskan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikahi seorang wanita dari suku Bani Jusham. Ketika orang-orang mengucapkan doa yang umum pada saat itu, yaitu “Semoga kebahagiaan dan banyak anak untuk kalian,” Aqil bin Abi Thalib menegur mereka dan menyarankan agar mereka mengucapkan doa yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Aqil mengajarkan bahwa doa yang benar adalah doa yang mengandung keberkahan, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu “اللهم بارك لهم وبارك عليهم” (Ya Allah, berikanlah berkah kepada mereka dan berikanlah berkah kepada mereka).
Berdasarkan hadis ini, kita dapat memahami bahwa dalam pernikahan, doa yang diucapkan sebaiknya mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW, yang memohonkan keberkahan untuk pasangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa doa yang memohon berkah lebih utama daripada sekadar doa untuk kebahagiaan atau banyak anak, karena keberkahan dari Allah adalah yang lebih penting dan membawa kebaikan dalam hidup seseorang.