عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِ يَكْرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:(كِيلُوا طَعَامَكُمْ يُبَارَكْ لَكُمْ) [شَرْحُ (كِيلُوا طَعَامَكُمْ) عِنْدَ شِرَائِهِ أَوْ بَيْعِهِ (يُبَارَكْ لَكُمْ) لِامْتِثَالِ أَمْرِ الشَّارِعِ بِكَيْلِهِ حَتَّى لاَ يَحْصُلَ شَكٌّ أَوْ مُنَازَعَةٌ وَبِفَضْلِ التَّسْمِيَةِ عِنْدَ كَيْلِهِ وَلِدُعَائِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا بِالْبَرَكَةِ فِي مُدِّ الْمَدِينَةِ وَصَاعِهَا](رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ :٢٠٢١)
Artinya: Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Timbanglah makanan kalian, niscaya Allah akan memberkahi kalian.” [Syarkh (penjelasan): “(Timbanglah makanan kalian)” ketika membelinya atau menjualnya. “(Niscaya Allah akan memberkahi kalian)” karena menaati perintah syariat untuk menimbangnya sehingga tidak terjadi keraguan atau perselisihan, dan karena keutamaan membaca basmalah ketika menimbangnya, serta karena doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalamnya agar diberkahi mud dan sha’ penduduk Madinah.] (HR. Bukhari 2021)
Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat jelas dan ringkas, yaitu perintah untuk menimbang makanan. Perintah ini tidak hanya bersifat anjuran, tetapi juga mengandung hikmah yang mendalam terkait dengan keberkahan. Dalam syarah atau penjelasannya disebutkan bahwa menimbang makanan, baik saat membeli maupun menjual, adalah bentuk kepatuhan terhadap syariat.
Berdasarkan hadis ini, kita dapat memahami bahwa terdapat beberapa poin penting. Pertama, menimbang makanan dapat mendatangkan keberkahan. Keberkahan ini bisa terwujud dalam berbagai bentuk, seperti kecukupan, manfaat yang lebih besar, atau terhindar dari perselisihan akibat ketidakjelasan takaran. Kedua, menimbang menghindari keraguan dan perselisihan antara penjual dan pembeli, menciptakan transaksi yang adil dan transparan. Ketiga, penjelasan hadis mengaitkan keberkahan ini juga dengan menyebut nama Allah (basmalah) saat menimbang, menunjukkan pentingnya dimensi spiritual dalam aktivitas sehari-hari. Terakhir, dikaitkannya dengan doa Nabi untuk keberkahan takaran di Madinah memberikan pemahaman bahwa tindakan menimbang dengan benar adalah bagian dari mencari keberkahan yang telah didoakan oleh Rasulullah.