Doa Rasulullah untuk Keberkahan Kota dan Hasil Bumi


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِأَوَّلِ الثَّمَرِ فَيَقُولُ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى مَدِينَتِنَا وَفِى ثِمَارِنَا وَفِى مُدِّنَا وَفِى صَاعِنَا بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ ». ثُمَّ يُعْطِيهِ أَصْغَرَ مَنْ يَحْضُرُهُ مِنَ الْوِلْدَانِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ٣٤٠١)

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila didatangkan buah pertama (dari panen), beliau berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami pada kota kami, pada buah-buahan kami, pada lumpur kami, dan pada sha’ kami, keberkahan di atas keberkahan.” Kemudian beliau memberikannya kepada anak kecil yang paling muda di antara yang hadir. (HR.Muslim: 3401)

Hadis ini menjelaskan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerima buah pertama dari hasil panen.

Berdasarkan hadis ini dapat kita pahami bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memulaikan doa memohon keberkahan dari Allah untuk kota Madinah, buah-buahan yang dihasilkan, serta takaran lumpur dan sha’ yang digunakan dalam transaksi. Beliau memohon keberkahan yang berlipat ganda. Setelah berdoa, beliau memberikan buah pertama tersebut kepada anak kecil yang paling muda di antara yang hadir. Tindakan ini menunjukkan kasih sayang beliau kepada anak-anak, mengajarkan mereka tentang keberkahan, dan mungkin sebagai bentuk tafa’ul (mengharap kebaikan) dengan memberikan yang pertama kepada yang paling muda.