عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنَّا نَعُدُّ الآيَاتِ بَرَكَةً وَأَنْتُمْ تَعُدُّونَهَا تَخْوِيفًا. كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَقَلَّ الْمَاءُ فَقَالَ: (اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ). Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan قَالَ: (حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ وَالْبَرَكَةِ (مِنَ اللَّهِ). فَلَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبَعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ. [ش (الآيات) المعجزات وهي الأمور الخارقة للعادة. (بركة) فضلا وتكرما من الله تعالى والبركة النماء والزيادة. (سفر) قيل في الحديبية وقيل في خيبر. (تخويفا) لأجل التخويف. (اطلبوا…) ابحثوا عن شيء من ماء بقي لدى واحد منكم. (حي على الطهور) تعالوا وتطهروا بالماء. (المبارك) الذي نما وزاد بفضل الله تعالى ففيه خير ونور. (كنا) على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم.] (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٣٣٨٦)
Artinya: Dari Abdullah ra, ia berkata: “Dahulu kami menganggap mukjizat sebagai keberkahan, sedangkan kalian membayangkan sebagai ketakutan. Dahulu kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan, lalu kami kehabisan udara. Beliau saw bersabda, ‘Carilah sisa air.’ Lalu mereka datang membawa bejana berisi sedikit udara. Beliau melihat memasukkan tangan ke dalam bejana kemudian bersabda, ‘Kemarilah menuju kesucian yang diberkahi, dan keberkahan itu dari Allah Ta’ala.’ Sungguh aku melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah saw, dan sungguh kami mendengar tasbih makanan ketika dimakan” (HR. al-Bukhari : 3386)
Hadis ini menjelaskan bahwa pandangan para sahabat Nabi Muhammad saw, sebagaimana dituturkan oleh Abdullah ra, terhadap mukjizat adalah sebagai sebuah keberkahan , yang mereka pahami sebagai karunia dan kebaikan yang datang dari Allah Ta’ala. Mereka merasakan langsung mukjizat sebagai sesuatu yang positif dan membawa manfaat dalam kehidupan mereka.
Berdasarkan hadis ini kita dapat memahami bahwa terdapat perbedaan penafsiran tentang mukjizat antara generasi sahabat dan generasi setelah mereka; para sahabat melihatnya sebagai anugerah, sedangkan generasi berikutnya cenderungnya dengan rasa takut atau peringatan. Hadis ini juga mengilustrasikan bagaimana dalam kondisi sulit, seperti ketika para sahabat kehabisan udara dalam perjalanan bersama Rasulullah saw, beliau tidak hanya mengupayakan solusi praktis tetapi juga Allah memberikan pertolongan yang nyata melalui mukjizat berupa udara yang mengemudi dari jari-jari beliau. Peristiwa ini menjadi bukti kenabian Muhammad saw dan sekaligus mengajarkan tentang keberkahan yang merupakan karunia dari Allah dan dapat diwujudkan melalui utusan-Nya