سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ يُحَدِّثُ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَتَسَحَّرُ فَقَالَ « إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللَّهُ إِيَّاهَا فَلاَ تَدَعُوهُ.( رَوَاهُ النَّسَائِيُّ: ٢١٦١)
Artinya: Aku mendengar Abdullah bin Al-Harits menceritakan dari seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia sedang bersahur. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah keberkahan yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya.” (HR. an-Nasa’i : 2161)
Hadis ini menjelaskan bahwa seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuinya ketika sedang bersahur.
Berdasarkan hadis ini dapat kita pahami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut sahur sebagai keberkahan yang Allah berikan kepada umat Islam. Beliau menekankan pentingnya sahur dengan perintah “janganlah kalian meninggalkannya. Hal ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar sekedar mengisi perut sebelum berpuasa, namun mengandung keberkahan dan kebaikan yang dianjurkan untuk tidak ditinggalkan.