Wafatnya Nabi SAW dengan Baju Besi yang Tergadaikan


أَخْبَرَنَا يُوسُفُ بْنُ حَمَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ لِأَهْلِهِ.قَالَ الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ(سنن الترمذي:٤٦٥١(

Artinya: Dari Yusuf bin Hammad telah memberitahukan kepada kami, dia berkata: Sufyan bin Habib telah menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: wafat dalam keadaan baju besinya tergadaikan pada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha‘ (sekitar 90 liter) dari gandum untuk keluarga beliau.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW meskipun beliau adalah utusan Allah, pernah mengalami kondisi yang memerlukan beliau untuk menggadaikan baju besi demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini menjadi dalil kebolehan melakukan gadai (rahn) dan bahwa beliau hidup dengan penuh kesederhanaan.