Kesederhanaan Dan Ketawadhuan Nabi Saw Dalam Menggadaikan Barangnya


عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّهُ مَشَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ، وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِرْعًا لَهُ بِالْمَدِينَةِ عِندَ يَهُودِيٍّ، وَأَخَذَ مِنْهُ شَعِيرًا لِأَهْلِهِ، وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ. (رواه بخاري: ١٩٦٣).

Artinya: hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu: Bahwa ia pernah berjalan menuju Nabi SAW dengan membawa roti dari gandum kasar dan lemak yang sudah berubah bau. Sungguh Nabi SAW pernah menggadaikan baju besi miliknya di Madinah kepada seorang Yahudi, lalu beliau mengambil darinya gandum untuk keluarganya. Dan sungguh aku mendengarnya bersabda. (HR al- Bukhari 1963).

Nabi SAW menjalani kehidupan yang sangat sederhana, bahkan dalam hal makanan dan kebutuhan pokok. Beliau tidak malu berurusan dengan orang Yahudi demi memenuhi kebutuhan keluarga. Hadis ini menunjukkan ketawadhuan dan sifat tawakal Nabi ﷺ dalam menghadapi kehidupan.