عَنْ أَنَسٍ ح قَالَ مُحَمَّدٌ وَحَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِى عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنسٍ قَالَ مَشَيْتُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ وَلَقَدْ رُهِنَ لَهُ دِرْعٌ عِنْدَ يَهُودِىٍّ بِعِشْرِينَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَخَذَهُ لأَهْلِهِ وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ ذَاتَ يَوْمٍ يَقُولُ « مَا أَمْسَى فِى آلِ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- صَاعُ تَمْرٍ وَلاَ صَاعُ حَبٍّ ». وَإِنَّ عِنْدَهُ يَوْمَئِذٍ لَتِسْعُ نِسْوَةٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (سنن الترمذي:١٢٥٩(
Artinya: hadis dari Anas, ia berkata:(Muhammad berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku dari Qatadah dari Anas, ia berkata:) Aku pernah berjalan menuju Nabi SAW dengan membawa roti dari gandum kasar dan lemak yang telah berbau (minyak yang sudah berubah bau). Sungguh, baju besi beliau pernah digadaikan kepada seorang Yahudi untuk membeli dua puluh sha’ makanan yang beliau gunakan untuk keluarganya. Dan aku pernah mendengarnya pada suatu hari berkata: ‘Keluarga Muhammad SAW tidak memiliki satu sha’ kurma pun dan tidak pula satu sha’ gandum pun untuk dimakan malam ini.’ Padahal saat itu beliau memiliki sembilan istri. (HR Tirmidzi 1259)
Hadis ini menggambarkan kesederhanaan dan ketawadhuan hidup Rasulullah SAW, meskipun beliau adalah pemimpin umat. Beliau tidak hidup dalam kemewahan, bahkan sampai menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi demi membeli makanan untuk keluarganya. Hadis ini juga menunjukkan bahwa tidak ada rasa malu atau gengsi dalam menghadapi keterbatasan hidup. Selain itu, beliau tetap adil dan bertanggung jawab kepada istri-istrinya, yang jumlahnya saat itu sembilan, meskipun dalam kondisi yang sangat sederhana. Ini menjadi teladan agung dalam hal tawakal, tanggung jawab, dan hidup secukupnya.