عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِرْعَهُ بِشَعِيرٍ، وَمَشَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِحَةٍ، وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ: «مَا أَصْبَحَ لِآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا صَاعٌ وَلَا أَمْسَى، وَإِنَّهُمْ لَتِسْعَةُ أَبْيَاتٍ».(رواه البخاري: ٢٣٧٣)
Artinya: hadis dari Anas radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menggadaikan baju besinya dengan gandum. Aku pernah berjalan membawa roti gandum dan lemak yang sudah berubah aroma kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Sungguh aku pernah mendengarnya bersabda: ‘Tidaklah keluarga Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam memiliki makanan walau hanya satu sha’ di pagi hari, dan tidak pula di sore hari, padahal mereka tinggal di sembilan rumah.’”Kuda yang digunakan di jalan Allah mendatangkan pahala dalam segala aspeknya.
Kuda yang dijadikan jaminan untuk tujuan duniawi bisa menjadi sumber dosa.
Kuda untuk mencari nafkah halal dapat menjadi sarana rezeki jika diniatkan dengan baik. (HR al-Bukhari 2373)
Hadis ini menunjukkan kesederhanaan dan kezuhudan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam serta keadaan ekonomi beliau yang sangat terbatas meskipun beliau adalah pemimpin umat. Hadis ini juga menjadi bukti bahwa kemuliaan tidak diukur dengan kekayaan duniawi. Keluarga beliau hidup dalam kekurangan, bahkan terkadang tidak memiliki makanan untuk hari itu, meskipun tinggal di sembilan rumah tangga. Ini juga mencerminkan ketaatan dan kesabaran mereka dalam menghadapi ujian dunia.