Jangan Mudah Marah


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ (رَوَاهُ البُخَارِي)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi Muhammad SAW (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Penjelasan hadis:

Ini adalah permintaan agar diberi nasihat praktis untuk diamalkan dan menjadi pedoman hidup. Nabi Muhammad SAW menjawab dengan satu kalimat singkat, tapi penuh makna. Beliau tidak memberi daftar panjang wasiat, melainkan satu kunci pengendalian diri: menahan amarah. Ketika sahabat itu mengulangi permintaan wasiat, Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa mengendalikan amarah adalah akar dari banyak kebaikan lainnya. Hadis ini mengajarkan bahwa mengendalikan amarah adalah salah satu kunci utama dalam mencapai kesalehan pribadi dan ketenangan sosial. Pesan singkat “لَا تَغْضَبْ” (Jangan marah) bukan hanya larangan sesaat, tapi nasihat mendalam agar kita melatih diri untuk menjadi pribadi yang tenang, sabar, dan bijak dalam menghadapi kehidupan.