Doa Meminta Keberkahan


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِأَوَّلِ الثَّمَرِ فَيَقُولُ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى مَدِينَتِنَا وَفِى ثِمَارِنَا وَفِى مُدِّنَا وَفِى صَاعِنَا بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ ». ثُمَّ يُعْطِيهِ أَصْغَرَ مَنْ يَحْضُرُهُ مِنَ الْوِلْدَانِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW apabila didatangkan buah pertama (dari panen), beliau berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami pada kota kami, pada buah-buahan kami, pada lumpur kami, dan pada sha’ kami, keberkahan di atas keberkahan.” Kemudian beliau memberikannya kepada anak kecil yang paling muda di antara yang hadir. (HR.Muslim)

Penjelasan hadis:

Hadis ini mengandung beberapa pelajaran penting dan makna yang mendalam:

1. Mensyukuri Nikmat Awal dan Memohon Keberkahan
“Dibawakan buah-buahan yang pertama kali panen (أَوَّلِ الثَّمَرِ)”: Ini menunjukkan tradisi para sahabat untuk mempersembahkan hasil panen pertama mereka kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk penghargaan, rasa cinta, dan syukur atas nikmat yang Allah berikan. Ini juga bisa menjadi simbol dari keberkatan awal suatu musim atau tahun. Doa Rasulullah SAW: Ketika menerima buah pertama tersebut, Nabi SAW tidak langsung memakannya, tetapi justru mengangkat tangan dan berdoa memohon keberkahan. Ini menunjukkan pentingnya berdoa dan bergantung kepada Allah atas setiap nikmat yang diterima, sekecil apapun itu. Beliau mengajari umatnya untuk selalu menghubungkan setiap rezeki dengan Dzat Pemberi Rezeki.

2. Lingkup Doa yang Luas
Doa Nabi Muhamad SAW dalam hadis ini sangat komprehensif, mencakup berbagai aspek keberkahan:”Pada kota kami (فِى مَدِينَتِنَا)”: Ini merujuk pada Kota Madinah, yang merupakan pusat dakwah Islam dan tempat Nabi Muhammad SAW hijrah. Doa ini menunjukkan kecintaan beliau terhadap Madinah dan permohonan agar Allah melimpahkan keberkahan pada seluruh aspek kehidupan di kota tersebut, termasuk keamanan, kesejahteraan, dan kehidupan masyarakatnya. Ini juga bisa dimaknai sebagai doa keberkahan untuk tempat tinggal atau komunitas Muslim secara umum. “Pada buah-buahan kami (وَفِى ثِمَارِنَا)”: Permohonan keberkahan pada buah-buahan (hasil pertanian) menunjukkan pentingnya sektor pertanian dan pangan bagi keberlangsungan hidup. Keberkahan di sini bisa berarti peningkatan kuantitas, kualitas, kemudahan panen, dan manfaat yang didapat dari buah-buahan tersebut. “Pada takaran mud kami dan pada takaran sha’ kami (وَفِى مُدِّنَا وَفِى صَاعِنَا)”: Mud dan sha’ adalah ukuran takaran volume yang digunakan pada masa itu (sekitar 0,6 liter dan 2,4 liter secara berurutan, meskipun ada perbedaan pendapat). Doa ini meminta keberkahan pada setiap takaran rezeki, yang berarti keberkahan pada kuantitas dan kualitas rezeki yang diperoleh, meskipun sedikit. Dengan keberkahan, sesuatu yang sedikit bisa menjadi cukup atau bahkan berlimpah manfaatnya. “Dengan keberkahan yang berlipat-lipat (بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ)”: Ini menunjukkan permohonan akan keberkahan yang terus-menerus dan bertambah, bukan hanya sekali saja. Ini mencerminkan keinginan agar keberkahan itu meliputi segala lini kehidupan dan terus berkembang.

3. Keteladanan dalam Memberi dan Menghargai Anak Kecil

“Kemudian beliau memberikannya kepada anak kecil yang paling muda di antara yang hadir (ثُمَّ يُعْطِيهِ أَصْغَرَ مَنْ يَحْضُرُهُ مِنَ الْوِلْدَانِ)”: Bagian ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah saw setelah berdoa untuk keberkahan, beliau tidak memakan buah tersebut sendiri atau memberikannya kepada orang dewasa yang lebih senior, melainkan justru memilih anak kecil yang paling muda.Ini adalah bentuk kasih sayang dan kepedulian beliau terhadap anak-anak. Juga merupakan pendidikan adab kepada para sahabat untuk mendahulukan dan menghormati anak-anak, serta mengajarkan mereka tentang kebaikan dan keutamaan.