عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلاَنِ يَلْتَقِيَانِ أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ فَقَالَ « أَوْلاَهُمَا بِاللَّهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. قَالَ مُحَمَّدٌ أَبُو فَرْوَةَ الرَّهَاوِىُّ مُقَارِبُ الْحَدِيثِ إِلاَّ أَنَّ ابْنَهُ مُحَمَّدَ بْنَ يَزِيدَ يَرْوِى عَنْهُ مَنَاكِيرَ. ( رواه الترمذي :٢٩١٠)
hadis dari Abu Umamah ia berkata: “Dikatakan: “Wahai Rasulullah, Ada dua orang yang bertemu, mana diantara keduanya yang lebih dulu memulai salam?” Beliau menjawab: “Yang paling dekat dengan (rahmat) Allah di antara keduanya.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan. Muhammad mengatakan: Abu Farwah Ar Rahawi riwayat haditsnya muqarrib (mendekati shahih), hanya saja putranya, Muhammad bin Yazid, meriwayatkan hadits-hadits munkar darinya. (HR. Al-Turmudzi, 2910)
Hadis yang dibahas mengisahkan tentang pentingnya memulai salam. Dalam riwayat ini, disebutkan bahwa orang yang pertama kali memberi salam adalah yang lebih dekat dengan rahmat Allah. Dalam riwayat Abu Dawud, disebutkan bahwa orang yang paling berhak mendapat rahmat Allah adalah yang memulai salam kepada orang lain. Hadis ini dianggap sebagai hadis yang baik (hasan), dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, meskipun Imam al-Hakim dan al-Mundziri tidak memberikan komentar terhadapnya. Dalam konteks ini, memulai salam menunjukkan adab yang sangat dihargai dalam Islam dan merupakan amal yang mendekatkan seseorang kepada rahmat Allah.