سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُخَالِطُنَا حَتَّى يَقُولَ لأَخٍ لِى صَغِيرٍ « يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ ». قَالَ وَكِيعٌ يَعْنِى طَيْرًا كَانَ يَلْعَبُ بِهِ. ( رواه ابن ماجه: ٣٨٥٢)
معانى بعض الكلمات : النغير : تصغير نغر وهو طائر يشبه العصفور أحمر المنقا
saya mendengar Anas bin Malik berkata: “Rasulullah SAW duduk bersamaku sampai beliau bersabda kepadaku: “Wahai Abu ‘Umair Apa yang di perbuat Nughair (burung kecil)?” Waki berkata: “Yang di maksud adalah seekor burung yang biasa bermain dengannya. (HR. Ibn Majah: 3852)
Makna beberapa kata: النغير: bentuk kecil dari kata نغر, yaitu seekor burung yang mirip dengan burung pipit, berparuh merah.
Berikut rangkuman penjelasan hadis tersebut dalam satu paragraf:
Hadis ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW bersenda gurau dengan penuh kasih sayang dan kelembutan kepada seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair yang bersedih karena burung peliharaannya, an-Nughair, mati. Dengan menggunakan kata-kata bertashghir (pengecilan) seperti “Abu ‘Umair” dan “an-Nughair,” Nabi SAW menyampaikan perhatian dan empati secara lembut, menanyakan dengan hangat, “Apa yang terjadi pada burung kecil itu?” Hadis ini menjadi teladan penting tentang bagaimana Rasulullah memperlakukan anak-anak dengan penuh empati dan menghibur mereka melalui sikap yang lembut dan penuh kasih, sehingga menegaskan nilai kelembutan dan kepedulian dalam interaksi sosial.