عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهُ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ». ( رواه ابن ماجه:٣٨٢٣)
Artinya: hadis dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah kalian akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan jika kalian mengerjakannya, niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Ibn Majah: 3823)
Al-Sindi menjelaskan bahwa Hadis ini menekankan pentingnya cinta dan kasih sayang antarsesama muslim sebagai syarat untuk mencapai keimanan yang sempurna, yang pada gilirannya menjadi syarat untuk masuk surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa seseorang tidak akan masuk surga hingga ia benar-benar beriman, dan tidak akan mencapai keimanan itu hingga ia mencintai saudaranya sesama muslim. Salah satu cara menumbuhkan cinta adalah dengan menyebarkan salam, yang tidak hanya bermakna mengucapkan salam dengan suara yang terdengar, tetapi juga memperbanyak dan membiasakan salam dalam pergaulan. Menyebarkan salam menghidupkan sunnah Nabi dan mempererat ukhuwah islamiyah. Hadis ini menunjukkan bahwa keimanan, akhlak sosial, dan amalan sunnah saling berkaitan erat dalam kehidupan seorang muslim.